Bercumbu Eksotisme Alam Wabula

*Wabula, Wisata Budaya dan Alam

Wabula adalah sebuah perkampungan tua di bibir Laut Banda yang punya budaya eksotis dan terus bertahan hingga kini. Selama ratusan tahun Kesultanan Buton berjaya di Nusantara, desa ini termasuk dalam Matana Sorumba atau wilayah pertahanan utama kerajaan.

Wabula merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Buton yang memiliki segudang potensi wisata yang sangat menarik. Berkisar 26 km dari Pasarwajo ibukota Kabupaten Buton, terdapat beberapa pantai yang sangat unik dan indah di Wabula, yakni pantai Lakhadao, pantai Lahunduru dan kali Topa.

Untuk pergi ke Wabula bisa melalui laut maupun jalur darat. Saat ini, jalur laut bisa dilalui dengan menumpang kapal nelayan. Sementara jalur darat, jalannya cukup mulus. Akses transportasi terbilang mudah sebab bisa didatangi dengan naik angkutan pedesaan yang biasa disebut pete-pete dari Pasarwajo.

Cuman memakan biaya 10.000/orang. Lama tempuh dari Pasarwajo sekitar dua jam. Desa ini juga sudah dialiri listrik, walaupun untuk sinyal telepon genggam terbilang masih susah.

Pantai Lakhadao dengan pasir putihya terletak di Selatan Desa Wasuemba, tepat berada di tanjung pomali. Pantai ini dikelilingi oleh laut dan tebing yang membujur tinggi. Selain digunakan sebagai tempat Wisata bagi Masyarakat Wabula dan sekitarnya, Pantai Lakhadao ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan nelayan yang ada disekitar. Demikian halnya pantai Lahunduru, yang memiliki garis pantai yang sangat indah dan panjang.

Catatan : Gunardih Eshaya

Matahari pada pagi Februari hari itu bersinar dengan hangat saat saya dan teman melintasi jalanan beraspal. yang terbilang cukup memacu adrenalin. Setelah menempuh perjalanan yang cenderung berliku dan memakan waktu sekira 2 jam lamanya dari Baubau, Wabula pun kami jangkau.

Tampak barisan rumah panggung dengan arsitektur atap yang khas. Kanaa, demikian masyarakat setempat menamakan rumah mereka yang atapnya unik karena diimbuhi oleh patung Naga kecil di kedua sisinya.

Ketika saya tiba, kondisi laut sedang surut sepanjang 1 Km. Hamparan pasir putih seketika menyilaukan mata. Saat itu jam tangan saya menunjukkan pukul 9.45 Wita. Sebenarnya perjalanan yang saya lakukan terbilang nekat dan buta-buta.

Selain tidak tau kondisi jalan, saya juga tidak tau persis dimana letak pantai Lakhadao. Namun rasa penasaran yang besar terus mendorong langkah ini. Untung saja warga lokalnya ramah-ramah dan mau menunjukkan bahkan menemani petualangan menuju pantai Lakhadao.

Hanya saja, untuk menuju wisata pantai pasir putih itu, kita harus menunggu hingga air laut pasang. Itu karena kita harus menggunakan transportasi laut untuk tiba di pantai Lakhadao. Air laut baru akan pasang paling tidak pukul 12.00 siang itu.

Sembari menunggu air pasang, saya menyempatkan diri keliling mengintari desa Wasuemba sembari melihat-lihat potensi dinamika mobilitas kehidupan masyarakat dalam menjalankan usahanya.

Denyut aktivitas kehidupan penduduk Desa Wabula tidak terlepas dari potensi wilayah dan tinjauan aspek geografi daratan yang bisa dikatakan cukup kritis. Terlepas dari semua itu, hal yang paling menarik adalah peran kalangan ibu-ibu rumah tangga yang bekerja sebagai penenun kain motif Buton. Pekerjaan menenun merupakan warisan sejarah (nenek moyang) sejak dulu kala yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan signifikan.

Peralatan tenun yang dipakai masih tradisional dengan jumlah produk yang dihasilkan sangat terbatas. “Biasanya kalau sudah ada yang pesan baru menenun. Rata-rata yang pesan itu dari kalangan pemerintah untuk dijahit jadikan baju. Kadang juga ada pesanan dari para perantau untuk di bawah atau di kirim,” kata Harman, warga lokal yang bersedia menemani saya.

Puas melihat-lihat kehidupan masyarakat lokal, saya kemudian bergegas menuju pantai Lahunduru untuk menikmati keindahan alamnya. Lokasinya hampir berdampingan dengan pantai Lakhadao. Keunikan dari pantai Lahunduru dibandingkan pantai-pantai lainnya yakni adanya ribuan keong yang menghuni pantai ini.

Jika sebagian besar pantai lain yang tersisa dari keong hanyalah cangkangnya, namun tidak dengan pantai Lahunduru. Di pantai ini ribuan keong hidup mengitari tepian pantai. Ibaratkan manusia, keong-keong ini merupakan penduduk asli yang menghuni dan menguasai pantai Lahonduru. Kebanyakan dari keong-keong ini bentuknya cukup kecil dan tidak lebih dari ibu jari orang dewasa serta menyebar di seluruh tepian pantai.

Disisi lain tidak seoarangpun diperbolehkan memancing di daerah pantai lahunduru. Sebab kawasan laut lahunduru merupakan wilayah konservasi adat Desa Wasuemba Kecamatan Wabula yang oleh masyarakat adat setempat di sebut dengan daerah “OMBO”. Itulah sebabnya keindahan pantai dan terumbu karang serta ekosistem dipantai dan laut Lahunduru masih asli dan tetap terjaga.

Pemberlakuan daerah “OMBO” di laut lahunduru sudah berlangsung lama. Inilah alasan Pemda Buton menjadikan daerah Lahunduru menjadi daerah destinasi wisata di Kecamatan Wabula. Menurut Bupati Buton, La Bakry, jika Pantai Lahunduru di kelola dengan baik, kedepan di prediksi akan menjadi salah satu destinasi wisata andalan dari Kabupaten Buton.

Tidak terasa air mulai pasang. Jam ditanganku menunjukan pukul 12.40 Wita. Nampaknya keindahan alam pantai Lahunduru telah menghipnotis saya sehingga lupa akan waktu. Saya kemudian bergegas, siap menikmati keindahan lain alam Wabula, pantai Lakhadao. Harus menantang derasnya ombak dan terik matahari, semua itu terbayar lunas dengan ke eksotisan yang dimiliki pantai Lakhadao. Anugrah tuhan yang sangat luar biasa.

Di pantai Lakhadao ini kita dapat menikmati deburan ombak yang pelan menepi. Anginpun bertiup dengan sepoi-sepoinya, begitu terasa diubun-ubun. Hamparan pasir putih yang masih alami membujur kaku, menawarkan sejuta pesona. Nyiur melambai, Pantai Lakhadao memanjang siap menebar pesona bagi orang-orang yang berada disekitarnya.

Seperti halnya di pantai Lahunduri, pantai Lakhadao juga memiliki keunikan tersendiri yang tidak kita dapatkan pada pantai-pantai lainya. Dipantai ini terdapat sejumlah bebatuan cadas yang menjulang tinggi. Diatasnya ada bangunan rumah, dibuat oleh nelayan setempat sebagai tempat persinggahan maupun peristirahatan sementara.

Dari atas batu itulah kita dapat melompat, terjun bebas dan tercebur kedalam jernihnya air laut. Sensasi mandi yang tidak dimiliki pantai lain. Antara tebing, jurang dan keindahan menyatu dalam sebuah rasa, hadir menyeruak bersama desir angin dan hening dalam kerinduan eksotis alam Wabula.

Pantai Lakhadao memang jauh dari jangkauan dan pemukiman warga. Itulah kenapa keaslian alam pantai tersebut masih sangat terjaga. Pantainya landai dengan hamparan pasir putih dimana lautnya penuh dengan ikan. Olehnya itu jika ingin berkunjung ke pantai Lakhadao, jangan lupa membawa bekal.

Wabula adalah kampung tua dengan sejuta keindahan alam. Puas menikmati keindahan pantainya, saya kemudian bergegas menuju kali Topa untuk sekedar menyepul badan. Jangan salah, sungai ini memiliki air yang sangat sejuk.

Terletak diutara kampung Desa Wasuemba, kali Topa berdampingan langsung dengan bibir pantai. Menyuguhkan dua rasa yang sekaligus dapat dinikmati bagi setiap pengunjungnya.

Sama halnya dengan pantai Lahunduru dan pantai Lakhadao, kali Topa menyajikan pemandangan alam yang masih alami. Merasakan sejuknya air kali dengan dihiasi hamparan pasir putih yang bernuansa padang pasir.

Juga terdapat ribuan kepiting berwarna-warni seukuran ibu jari. Pengunjung kali Topa masih didominasi oleh wisatawan lokal, rata-rata dari kalangan pelajar atau pemuda dan pemudi.

Matahari mulai condong ke timur. Langit mulai mendung, hujanpun turun membasahi bumi matana sorumba. Saya kemudian bergegas pulang, membawa ribuan kenangan indah yang tak mungkin terlupakan. Satu rasa yang tertinggal dan selalu menghinggapi mereka yang berkunjung ke Wabula termaksud kami. Rasa ingin menikmati kembali keindahan Wabula.

Seperti namanya, Wabula telah mewakili destinasi “wisata budaya dan alam” diwilayah eks kesultanan Buton. Begitulah saya dan teman-teman mengartikan nama Wabula. ***

Lambusango, Salah Satu Destinasi Wisata Unggulan

Sebagai paru-paru dunia, hutan Lambusango yang terletak di Kabupaten Buton ternyata memiliki ribuan spesis flora dan fauna dengan karakter yang berbeda dibanding hewan yang hidup dalam kawasan hutan lainnya. Hak itulah yang membuat Lambusango selalu dilirik dan terus dikunjungi para peneliti.

Keunikan sejumlah spesis yang hidup dihutan Lambusango dikarena Buton adalah salah satu pulau yang tidak ada kaitannya dengan benua Asia maupun benua Australia. Dengan kata lain, Buton berdiri sendiri sebagai salah satu benua yang mini.

Pulau Sumatera yang berkaitan dengan pulau Jawa, keduanya masuk dalam kawasan benua Asia, tapi tidak halnya dengan pulau Buton. Di buktikan dengan keberadaan sejumlah spesias binatang yang ada di benua Asia namun tidak ada di pulau Buton, begitu juga sebaliknya. Contohnya keberadaan gajah yang bisa ditemukan di Thailand dan juga di Sumatera tapi tidak terdapat di Buton.

Demikian juga Benua Australia dengan Kangurunya, tidak terdapat dibenua lain. “Apa yang menjadi unggulan, ternyata pulau Buton memang berdiri sebagai satu pulau yang tidak ada kaitannya dengan benua Asia maupun Australia. Dapat dibuktkan hewan yang ada Buton (Lambusango) misalnya Anoa, dia tidak terdapat di Asia dan Australia, menandakan bahwa pulau Buton itu berdiri sebagai satu benua yang mini. Juga Kupu-kupu yang ada di Lambusango, hampir dipastikan tidak ada yang sama dengan yang ada disana (benua Asia dan Australia),” ungkap La Bakry.

Contoh keunikan lain dari hewan yang hidup dalam hutan Lambusango dibanding daerah lain adalah binatang Tarsius. Belum lama ini telah dilakukan penelitian terkait binatang Tarsius dengan mengumpulkan seluruh jenis Tarsius dari belahan dunia. Kesimpulannya, Tarsius yang berada di pulau Kalimantan dan pulau Jawa, tidak sama dengan Tarsius yang berada di Pulau Buton.

“Ketika Tarsius kita dikumpulkan dengan Tarsius lain dan saat Tarsius yang lain bunyi (bersuara), Tarsius kita tidak terpengaruh dengan bunyi Tarsius yang lain, sementara Tarsius yang dari Kalimantan dan Jawa semuanya ikut bersuara. Sementara Tarsius kita lebih memilih diam, itu menandakan bahwa dia sebenarnya tidak ada hubungan dengan yang disana. Tapi ketika Tarsius kita bunyi, semuanya ikut bunyi. Jadi ternyata dispesifikasi Tarsius kita lebih spesifik, Tarsius Raja. Jadi La Ode Tarsius,” jelas La Bakry sambil sedikit bergurau.

Olehnya itu kata La Bakry, kita semua patut bersyukur karena hutan Lambusango dan Pulau Buton tidak terkait langsung dengan benua Asia dan benua Australia. Hal itu pula yang menambah keunikan hutan Lambusango dibanding hutan lainnya dibelahan dunia.

“Inilah yang sementara saya buat dimensi perspektifnya, bagaimana kondisi Lambusango bisa hadir dan kita jual sebagai unggulan pariwisata yang berujung pada peningkatan PAD dan kesejahteraan masyarakat. Programnya akan kita pikirkan matang-matang sehingga tidak akan mengganggu habitat flora fauna seperti yang terjadi pada taman nasional lainnya,” jelas La Bakry. (***)

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.