Mampu Penuhi Kebutuhan Nasional, AsButon Bakal Jadi Primadona

Pasarwajo – Penggunaan Aspal Buton (AsButon) diyakini akan menjadi primadona, baik itu di kancah nasional maupun internasioanal. Hal itu karena dari berbagai aspek AsButon lebih unggul dibanding Aspal minyak, baik dari segi mutu, harganya yang relatif lebih murah serta kemudahan pengerjaan dan memperolehnya.

Bupati Buton, La Bakry memaparkan AsButon jika diproduksi dan dipromosikan secara massif, bisa memenuhi kebutuhan Aspal di Indonesia. AsButon sendiri telah beberapa kali dilakukan pengujian. Uji gelar salah satunya di Jalan Tol Cipularang, Purwakarta, 109 KM dari Jakarta. Hasil ujicoba tersebut langsung kelihatan dan pihak kementerian PU RI, menjanjikan akan memakai AsButon didalam negeri.

Direksi PT Buton Aspa Nasional dan Pengusaha Jalan Tol Cipularang

“Saat ini ada 1,2 juta ton Aspal minyak yang diimpor dari Singapura. Mudah-mudahan dengan hasil yang memuaskan pada beberapa uji gelar, Aspal Buton segera menjadi tuan rumah di negeri sendiri menggantikan impor aspal yang dari singapura,” katanya La Bakry.

Dikatakan La Bakry, AsButon memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan produk aspal lain. Diataranya, kuat, kokoh dan keras, lengket dan lentur, tahan terhadap perubahan temperatur dan paparan ultra violet, tahan terhadap perubahan bentuk, awet sehingga umur pelayanan lebih lama, serta tahan terhadap air.

“Aspal Buton menggunakan 100 persen aspal alam Buton dalam campuran, dapat dihampar dan dipadatkan dalam kondisi panas, hangat maupun dingin, dapat melayani beban lalu lintas berat dan terpenting Aspal Buton memenuhi tiga M, yakni mutu, mudah dan murah,” tukasnya.

Karyawan PT Buton Aspal Nasional (Butonas) mengaspal Jalan Tol Cipularang sejauh 1 KM

Diyakini La Bakry, paska pelaksanaan uji gelar aspal Buton di Jalan Tol Cipularang, Purwakarta, seluruh jalan Tol di Indonesia bakal mengggunakan Aspal Buton untuk dijadikan sebagai lapisan jalan. Selain dari pihak kementrian PU maupun dari Bina Marga, kontraktor jalan tol dan beberapa pengusaha hadir dan ikut menyaksikan langsung uji coba tersebut.

Untuk diketahui uji gelar aspal Buton dilakukan PT Buton Aspal Nasional (Butonas), sebagai Distributor. Uji gelar aspal buton ini dilakukan pada ruas jalan tol Cipularang km.109 sepanjang satu KM. Uji Gelar pertama dilakukan dengan melapisi ulang satu jalur jalan tol Cipularang. Uji Gelar kemudian dilanjutkan dengan melapisi jalur darurat sepanjang 200 meter.

Wabup Buton, La Bakry yang kini Bupati Buton sementara menjelaskan pada salah seorang pejabat kementerian PU, tentang keunggulan Aspal Buton dan dijamin bisa menjadi Aspal Nasional

Menurut La Bakry, Aspal Buton memiliki perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan aspal minyak. Apalagi aspal minyak dianggap sudah tidak dapat memenuhi spesifikasi teknis ditentukan Jasa Marga. “Aspal Buton bersifat lengket dan lentur, serta tahan pada perubahan temperature dan paparan cahaya sinar matahari. Karakteristik Aspal Buton, tahan terhadap perubahan bentuk dan memiliki tingkat ketahanan yang tinggi sehingga umur jalanan cenderung bertahan lebih lama dibandingkan aspal minyak,” ungkapnya.

Perbedaan yang lain, Aspal Buton kaya akan kandungan bahan anti striping sehingga aspal ini tahan terhadap air. Berbeda dengan aspal minyak cenderung tidak tahan air. Sehingga saat musim hujan dapat dengan mudah rusak. Yang paling nampak lagi, harga aspal minyak naik tiap tahun. Namun dengan memakai Aspal Buton yang merupakan produk dalam negeri, dapat menghemat biaya.

Dalam uji gelar AsButon itu, hadir juga dari Ketua DPRD dan unsur pemerintahan Bandung Barat. “Oleh Ketua DPRD Bandung Barat disampaikan ke saya, Pemerintah Bandung Barat dalam waktu dekat akan ke Buton melihat Aspal. Mereka begitu tertarik dengan Aspal Buton untuk digunakan pada pembangunan jalan di sana,” pungkasnya.

La Bakry saat uji gelar Aspal Buton di Jalan Tol Cipularang, KM 109

Panjang lebar La Bakry menjelaskan, AsButon ditemukan tahun 1924 di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Asbuton mulai digunakan dalam pengaspalan jalan sejak tahun 1926. Berdasarkan data yang ada, AsButon memiliki deposit sekitar 677 juta ton atau setara dengan 170 juta ton aspal minyak. Asbuton merupakan deposit aspal alam terbesar di dunia.

Terdapat dua jenis unsur utama dalam Asbuton, yaitu aspal (bitumen) dan mineral. Pemanfaatan unsur ini dalam pekerjaan pengaspalan akan mempengaruhi kinerja perkerasan aspal yang direncanakan. Terjadi pasang surut penggunaan Asbuton seiring dengan kebutuhan akan bahan aspal dan perkembangan teknologi. Asbuton pernah diproduksi mencapai 500.000 ton/tahun.

Pada tahun 80an produksi Asbuton mengalami titik nadir. Sedangkan pada periode 90an, Asbuton yang dihasilkan tidak optimal akibat kegagalan konstruksi disebabkan penggunaan teknologi yang tidak tepat. Namun demikian, sesuai dengan Renstra Departemen Pekerjaan Umum 2005-2009, Asbuton dipatok sebanyak 556.000 ton untuk digunakan pada pemeliharaan jalan nasional. Disamping itu, sekitar 550.000 km jalan-jalan provinsi, kabupaten, dan kota serta jalan lainnya berpeluang untuk menerapkan Asbuton dalam lapisan aspalnya.

Diungkapkan La bakry, jenis AsButon yang telah diproduksi secara fabrikasi dan manual dalam tahun-tahun belakangan ini yaitu Asbuton Butir yang merupakan jenis Asbuton berdasarkan besar butir dan kadar aspal yang dikandungnya. Kemudian Asbuton Murni Full Ekstraksi merupakan bitumen murni hasil ekstraksi asbuton menggunakan beberapa cara, antara lain dengan bahan pelarut atau cara lain seperti menggunakan teknologi air panas.

“Asbuton murni hasil ekstraksi dapat digunakan langsung sebagai pengganti aspal keras atau sebagai bahan aditif yang akan memperbaiki karakteristik. Mineral asbuton merupakan limbah dari proses ekstraksi. Selain dapat dimanfaatkan sebagai filter dapat juga digunakna sebagai bahan stabilisasi tanah,” jelasnya.

Berikutnya ada AsButon Pra Campur (pre-blended) merupakan gabungan antara Asbuton butir hasil refine Asbuton dengan kadar bitumen 60% sampai 90% dengan aspal minyak pen 60 dalam komposisi tertentu. “Asbuton jenis ini dapat dikatakan sebagai aspal minyak yang dimodifikasi, sehingga dalam campuran dapat langsung digunakan untuk dicampur dengan agregat” tukasnya.

Adapun payung hukum untuk penggunaan Asbuton adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 35/PRT/M/2006, SK Dirjen Bina Marga, Spesifikasi, Pedoman teknis, Manual, Petunjuk pelaksanaan dan Petunjuk teknis.

Minta Jokowi Perhatikan Aspal Buton

Bupati Buton,La Bakry meminta pada Presiden Joko Wododo (Jokowi) untuk memperhatikan sekaligus memprioritaskan Aspal Buton untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan nasional.

Bupati Buton, La Bakry bersama Presiden RI, Joko Widodo

Hal tersebut disampaikan La Bakry pada pertemuan bersama para bupati dan wali kota se-Indonesia di Istana Bogor. Pertemuan tersebut berlangsung dari pukul 16.00 WIB hingga 18.00 WIB.

La Bakry menyampaikan pada Jokowi, Aspal Buton memiliki kualitas yang tidak kalah dengan aspal minyak. Malah dari sisi harga jauh lebih murah, penggunaannya lebih tahan lama.

Harapannya, jika Pemerintah Pusat menggunakan Aspal Buton dalam pembangunan jalan nasional, maka aspal jadi sumber kesejahteraan rakyat, di Sultra utamanya di Buton.

Selain Aspal Buton, “01” di Buton ini meminta pada Presiden untuk membuka ruang bagi rekrutmen aparatur sipil negra (ASN). Utamanya untuk pendidik dan tenaga kesehatan.

“Pada pertemuan tersebut saya sampaikan bahwa Buton masih kekurangan 2088 ASN untuk memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) untuk semua urusan pemerintahan,” kata La Bakry pada koran ini, lewat ponselnya.

Apa tanggapan Jokowi? “Insya Allah akan menjadi perhatian pemerintah, terutama soal konsesi untuk perusahaan daerah dalam rangka peningkatan PAD,” ungkapnya.

Hanya saja soal waktu kapan belum dijanjikan. “Waktunya tidak ditentukan, ada prosesnya. Tergantung kecepatan memenuhi persyaratan yang diatur dalam ketentuan perundangan,” tutup pria yang juga Ketua DPD Partai Golkar Buton ini.

Selain Aspal, Sektor Wisata Jadi Andalan

Selain mempromosikan aspal, Pemerintah Kabupaten Buton terus menggejot pembangunan daerah melalui sektor pariwisata. Sejak 2013, Kabupaten Buton sudah mencanangkan satu gelaran festival budaya tua nasional dan telah menjadi agenda Kementerian Pariwisata yang digelar tiap Agustus.

Bupati Buton, Drs La Bakry menuturkan dalam segi budaya, kabupaten buton merupakan implementasi eks kesultanan Buton sejak tahun 1200 sampai 1960. Dalam kurun waktu lima ratus tahun tersebut, banyak budaya yang bisa dikembangkan untuk memacu pariwisata daerah.

Terobosan yang telah dilaksanakan pemerintah kabupaten Buton selama enam tahun, yakni dengan mempromosikan budaya buton ke kancah nasional dan internasional tak dapat diragukan lagi. Terbukti dengan diraihnya rekor MURI untuk kabupaten Buton dengan penari terbanyak di Takawa beberapa tahun lalu.

“Kami juga sudah beberapa kali mempromosikan budaya dan adat Buton di Cina, Bali, maupun APEC. Kesemuanya itu dilakukan dalam rangka promosi budaya dan untuk menggairahkan pariwisata yang dimiliki Buton,” kata La Bakry.

Dengan ditetapkannya sepuluh destinasi wisata, tentu kabupaten Buton harus mengambil bagian guna mewujudkan kebijakan pemerintah disektor pariwisata. Menurutnya, Kabupaten Buton selain budaya dan adat beragam juga memiliki kekayanan terumbu karang, panorama alam, dan pantai yang dapat dijadikan destinasi wisata.

“kita harapkan tujuan pariwisata dalam rangka mewujudkan kebijakan pemerintah itu dapat dilaksanakan,” tukasnya.

Dikatakan La Bakry, budaya adalah kekayaan daerah yang tidak akan pernah lekang ditelan waktu. Masyarakat sebagai domain utama diharapkan mampu menggerakkan perekonomian melalui sektor pariwisata tersebut.

Sebagai bentuk konsistensi upaya peningkatan sektor pariwisata, Kabupaten Buton mencanangkan pemberlakuan sentuhan adat buton untuk pegawai sehingga diharapkan penenun tradisional mendapatkan tambahan penghasilan dengan aturan yang diberlakukan itu.

“Terobosan itu merupakan item besar yang dikelola pemerintah kabupaten buton dan sudah menjadi identitas tersendiri,” imbuhnya.(***)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.